Semalam diajakin nonton sama mantan, siapa takut???. Tapi film yang akan ditonton bukan film cinta ABG atau film hantu seperti kemarin, tapi film tentang perjuangan Indonesia. Yaaa....film “Merah Putih III”, film yang sudah kami tonton seri I dan II dan pasti seri III ini wajib ditonton. Kali ini kami memilih menonton setengah midnight, jadilah pukul 20.45 WIB. “Malam bu, mau nonton apa?”, tanya penjual tiketnya. “Merah Putih mbak, eh....bener ya bang judulnya?”, sahutku sambil sedikit bertanya dengan suamiku. “Iya, sama aja kok judulnya (tertulis Hati Merdeka)”, jawab suamiku. Terlihat cuma ada 5 tempat yang sudah terisi, 2 di pojok tengah paling atas dan 3 sederet di sebelah kiri paling atas. Kami memilih di baris kedua paling tengah, biar pas nontonnya. “Yuk....”, kataku sambil menarik tangan suamiku. Sesampai di dalam film baru mau dimulai, siaplah kita menonton.
Der...dor...tret...tet...tet....awal-awalnya saja sudah heboh tembakan, namanya juga film perang buk makanya yang nonton mesti semangat juga. No comment, no expression ketika kulirik suamiku. Ternyata dia sangat serius. Memang film yang bagus ditengah miskinnya rasa kebangsaan di negeri ini. Bahkan ketika aku menghadiri suatu acara resmi, ketika pembawa acaranya meminta hadirin untuk berdiri karena akan dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, eh yang berdiri Cuma aku saja. Apa karena aku duduk di luar dari ruang utama? Oh my God....semenit doank kok disuruh menghormati ya susah, padahal yang hadir juga bukan anak-anak tapi kok ya ga malu ya? Bukannya sok nasionalis, tapi ini sebuah bentuk penghargaan kan?. Sampai-sampai salah seorang kenalan mengatakan salut padaku karena aku berdiri waktu lagu Indonesia Raya dikumandangkan, nah loh...bukannya memang harus kita berdiri? Entahlah.....
Tak berapa lama film diputar, terdengarlah bunyi nyit...nyit....nyit....di pojok tengah atas tempat 2 orang duduk bersebelahan. Alahai, lagi serius begini malah dengar bunyi nyat...nyit....nyat....nyit. kulihat suamiku juga sebel, malas pun aku melirik kesana, ga penting banget. Suasana kembali normal, tidak sampai 20 menit suah bunyi nyat....nyet...nyot lagi. Halah.....biarin sajalah, anggap saja tidak mendengar.
Filmnya seru, agak lucu, itu menurutku. Pada seri II dahulu aku juga sempat tertawa karena anak mudanya diberondong senjata ga mati-mati. Wah kalau ini perang beneran pasti Indonesia tidak sampai 3,5 abad plus 3,5 tahun dijajah Belanda dan Jepang. Soalnya cepat sekali menangnya, sekali menjalankan misi pasti menang. Namanya juga film, so far so good. Nah, di seri III ini juga ada yang lucu, pas bagian Marius ditusuk pake bayonet pas ditengah dadanya.....dia masih hidup! Wah, mesti ada ilmu ini orang, hehehe. “Hebat ya bang...”, celetukku ke suami. “Hahaha, iya...”, jawabnya sambil tertawa. Marius dibawa ke gua, dan ga sampai 20 menit udah sembuh, bahkan ikut dalam menjalankan misi memburu Mr. Kreamer (kayaknya begitu namanya....:p). Marius bisa berkelahi man to man dengan kaki tangan Belanda yang orang Indonesia, kerenlah. Ada juga karakter Wayan yang kusuka, selain Lukman Sardi pastinya. Wayan diperankan oleh T.Rifky, orang Aceh yang berperan jadi orang Bali. Tapi seri III ini dia sudah bisu karena lidahnya dipotong Belanda di seri II. Karakternya kuat, bagus, walaupun orangnya tidak keren karena dia memang menjual bakat bukan tampang. Bagian yang membuatku tertawa adalah sewaktu Nugie yang berperan jadi pemimpin misi berbicara.....kok seperti dialek orang Aceh ya...(sepertiku :p). Oh ya, aku lupa kalau ternyata antara dialek orang Bali dan Aceh hampir sama kawan.
Aksi heroik tentara Indonesia dan rakyat membuatku sedikit termenung. Wah, sungguh hebat bangsa Indonesia dahulu. Semuanya bersatu, bahkan dengan bambu runcing bersatu berani melawan Menir yang pake tank without top :p. Semua tidak ingin menyerah, pantang mundur hingga akhirnya misi kali ini dimenangkan tentara dan rakyat Indonesia dengan menangkap Menir Kreamer. Akhir yang baik, karena Menir Kreamer tidak dibunuh (tidak jadi balas dendam) karena sesuai dengan keinginan Kapten Lukman Sardi bahwa “tujuan menjadi tentara adalah merebut kemenangan, bukan menjadi pembunuh”. Ah.....lega juga karena akhirnya misi ini selesai dan semua selamat J.
Seandainya bangsa Indonesia saat ini juga memiliki semangat bambu runcing untuk menumpas korupsi, ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan.....mungkin setiap pagi tidak ada berita sedih di TV. Seandainya semua bersatu melawan “penyakit-penyakit” tersebut, tentu saja acara TV akan diisi acara OVJ saja, bukan acara pembunuhan, tersangka korupsi, sogok menyogok, sampai operasi payudara pakai biaya Jamkesmas. Semoga saja banyak orang yang menonton film ini untuk membakar semangat persatuan bangsa. Kalau mau menang mesti bersatu....
Selesailah film, aku bangun dari tempat duduk sambil sedikit berbicara ke suamiku. Kulihat 2 orang keluar dengan segera. Kulirik suamiku. “Ntah apa, bunyi-bunyi pas orang nonton”, katanya dengan sebel. “Tuh orangnya, kupikir tadi ABG”, sahutku. “Homhom kali....”, kata suamiku. “Hahaha.....”, aku tertawa terbahak sambil menyaksikan 2 orang laki-laki yang terburu-buru keluar dari pintu studio cinema.
Tasik, 15 Juni 2011
15.00